600 250 Thumbnail 1

Kalam Dan Pembagiannya

Kalam
Secara bahasa adalah “Segala sesuatu yang memberikan makna, baik berupa tulisan, isyarat, atau apa yang dipahami dari keadaan suatu benda”. Dalam asal bahasa, kalam adalah ungkapan dari suara-suara yang berurutan yang mengandung makna yang dipahami dan menunjukkan pada ucapan yang memberi pengertian.

Adapun kalam secara istilah adalah lafaz yang tersusun, memberi makna (faedah), dan berdasarkan pada penetapan (kebiasaan bahasa).

Penjelasan :
اللَّفظُ: lafaz, yakni suara yang keluar dari mulut.
المركَّبُ: tersusun, yaitu terdiri dari dua kata atau lebih
المفيدُ: memberi faedah, artinya dapat dipahami maksudnya.
بالوَضْعِ: berdasarkan penetapan dalam bahasa.

Khulashoh : susunan kalimat (kata) yang tidak memberikan faidah tidak disebut kalam.


Pembagian Kalam :

Kalam terbagi menjadi 3, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf.

1. Apa itu Isim?

“Sesuatu yang menunjukkan kepada suatu yang dinamai” atau “ Kata yang menunjukkan kepada suatu benda, orang, tempat atau makna tertentu yang tidak berkaitan dengan waktu terjadinya”. Seperti : (زَيد، وكِتاب، وفَرَس، ومكَّة، وهواء، وقوَّة، وهُدوء…)

Tanda-tanda isim

Isim memiliki tanda-tanda yang membedakannya dari Fi’il dan Huruf. Dimana tanda- tanda isim ada 5 sebagaimana yang disebutkan Ibnu Malik dalam bait syairnya didalam Kitab Alfiyah : بِالْجَرِّ والتَّنْوينِ والنِّدَا وَأَلْ وَمُسْنَدٍ لِلِاسْمِ تَمْيِيزٌ حَصَلْ.

Yang artinya:
“Dengan tanda jar (khafadh), tanwin, seruan (nida), dan ‘al’ (alif-lam), serta sebagai sesuatu yang disandarkan kepadanya (musnad), itulah ciri pembeda bagi isim.”
5 tanda-tanda isim :
1. Jar. Contohnya : في المسجدِ
2. Tanwin. Contohnya : كتابٌ
3. Nida’. Contohnya : يا محمدُ
4. Al (ta’rif). Contohnya : البيتُ
5. Musnad. Contohnya : زيدٌ قائمٌ

2. Apa itu Fi’il?

Pengertian
“Setiap lafaz yang menunjukkan makna pada dirinya, disertai dengan waktu, baik itu masa lampau, masa sekarang, atau masa yang akan datang”.

Pembagian Fi’il
Fi’il Madhi (Lampau)

Yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu makna yang terjadi sebelum waktu berbicara, seperti:
قامَ (telah berdiri), صامَ (telah berpuasa), زرعَ (telah menanam), أكلَ (telah makan), حضرَ (telah hadir), ماتَ (telah meninggal).

Fi’il Mudhori’ (Sekarang atau Akan Datang)

Yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu makna yang terjadi pada waktu berbicara (sekarang) atau setelahnya (masa depan), seperti:
يقومُ (sedang berdiri/akan berdiri), ينامُ (sedang tidur), يأكلُ (sedang/akan makan), يشربُ (sedang/akan minum), يذاكرُ (sedang/akan belajar), يلعبُ (sedang/akan bermain).

Fi’il Amr (Perintah)

Yaitu permintaan terjadinya suatu perbuatan di masa depan, dengan bentuk perintah (If‘al) dan bentuk-bentuk turunannya, baik dalam waktu dekat maupun jauh, seperti:
اجتهد (bersungguh-sungguhlah), كافح (berjuanglah), اشرب (minumlah), اسمع (dengarlah), انظر (lihatlah).

Tanda-Tanda Fi’il

Fi’il bisa dimasukan beberapa tanda diantaranya :

(قد، والسِّين وسوف، وتاءِ التأنيثِ السَّاكِنةِ، وتاءِ الفاعِلِ، ونونِ التوكيدِ، وياءِ المخاطَبةِ)

Penjelasannya :
قد: digunakan untuk menunjukkan kepastian atau kemungkinan.
سَـ / سوف: menunjukkan masa depan.
تاء التأنيث الساكنة: penanda feminin dalam fi’il madhi (lampau), seperti: “قامتْ”.
تاء الفاعل: menunjukkan pelaku, seperti: “ذهبتُ” (aku pergi).
نون التوكيد: penegas perintah/larangan, seperti: “لَتَفْعَلَنَّ”.
ياء المخاطبة: digunakan untuk perempuan yang diajak bicara, seperti: “افعلي” (lakukanlah, wahai perempuan)

3. Apa itu Huruf?

Pengertian
“Apa yang tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri, melainkan menunjukkan makna pada selainnya, yaitu pada isim (kata benda) atau fi’il (kata kerja) yang dimasukinya” atau “Apa yang hanya menunjukkan makna pada selainnya saja”.

Pembagian Huruf

Huruf terbagi menjadi 3, dilihat dari pengkhususannya yang hanya bisa masuk pada Isim dan Fi’il :

1. Masuk khusus pada Isim
– Huruf jar. Contohnya : سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ [الصافات: 109]

2. Masuk khusus pada Fi’il

Huruf Jazm. Contohnya : لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ [الإخلاص: 3]

Huruf Taswif (س dan سوف). Contohnya : سأنتَظِرُك، وسوف أحضُرُ

Huruf قد، تاء التأنيث، ياء المخاطبة، , telah dijelaskan dalam pembahasan tanda-tanda fi’il.

3. Masuk pada Isim dan Fi’il

Huruf athof. Contohnya :

جاء محمدٌ وعَلِيٌّ ( Pada Isim)

جلس القومُ يَأكُلون ويَشرَبون (Pada Fi’il)

Huruf istifham. Contohnya :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ [الرحمن: 60] (Pada Isim)

وقَولِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: «هل تَدْرونَ ما الإيمانُ باللهِ وحْدَه؟» . (Pada Fi’il)

Jumlah Dan Pembagiannya

Jumlah adalah: “Kumpulan kalimat (kata) yang memberikan makna sempurna (Jumlah Mufidah)” atau dalam kata lain Jumlah adalah Kalam yang Mufid, sementara “Kumpulan kalimat (kata) yang tidak memberikan makna disebut kalimat yang tidak mufid (Jumlah Ghoiru Mufidah)”.

Pembagian Jumlah

Kalam terbagi menjadi 2 : jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah

Jumlah Ismiyyah
“Jumlah yang dimulai dari isim dan terdiri dari mubtada’ dan khobar”. Contohnya :
محمد في الفصل

Jumlah Fi’liyyah
“Jumlah yang dimulai dari fi’il dan terdiri dari fi’il dan fa’il”. Contohnya :
ذهب محمد إلى الفصل

Syibhul Jumlah
“Kumpulan kalimat (kata) yang menyerupai kalimat (Jumlah Mufidah) sempurna, tetapi belum memiliki makna yang utuh”.

Syibhul jumlah terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Jar majrur
Terdiri dari huruf jar dan isim yang majrur. Contohnya :
في المسجد، من البيت

2. Zhorf
Merupakan keterangan tempat (makan) dan zaman (waktu). Contohnya :
أمام المسجد، وراء البيت

Syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri karna belum memberikan makna yang jelas atau dalam kata lain ia butuh kalimat lain untuk menjadikannya sempurna.
Contohnya: فيصل في المسجد، أجلس وراء البيت

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *