Sahabat Lisan,
Jika kita kembali mengingat akan firman Allah,
إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ یُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوۤا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ یُرَاۤءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِیلࣰا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang membalas tipuan mereka, apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas, mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia, dan mereka tidak (berzikir) mengingat Allah kecuali sedikit.”
// Surah An-Nisa ayat 142
Maka berlindung dari sifat munafik, sangat ”urgent dan important” di tengah kehidupan yang penuh fitnah seperti saat ini, untuk kita berlindung dari sifat tersebut.
Apa yang harus kita lakukan?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah mengingatkan akan hal ini yaitu:
- Latihlah diri kita agar terus ikhlas dalam beribadah, hanya ditujukan kepada Allah. Ikhlas sepenuhnya.
- Berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan diri dari sifat munafik tersebut. Diambil dari hadits mengenai sifat munafik, “Jika berjanji, maka ia ingkari. Jika berbicara, ia berdusta. Jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi. Jika diberi amanat, ia khianat.” Jauhkan hal-hal tersebut dari diri kita. Jaga agar tidak ‘bermudah-mudah’ dalam berdusta agar orang senang dengan kita. Hati-hati dalam berjanji. Dan tepati janji tersebut jika telah terucap. Mari selalu berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari kemunafikan yang besar. Wal’iyadzu billah.
- Segala trik dan daya upaya akan terus dilakukan oleh setan yang mengajak kita untuk lalai dalam beribadah. “Tidak perlulah Sholat Sunnah lagi, kan yang wajib sudah cukup”. “Nanti kalau sedekah kepada tetangga yang miskin itu, kita bisa dianggap riya loh.. Nggak usah lah”. Tetap lakukan ibadahnya. Jaga hati agar melakukannya hanya karena Allah dan jangan pedulikan godaan tersebut.
“Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari sifat munafik yang ada di dalam hati kami”